Information Overload
ketika terlalu banyak berita ekonomi justru membuat kita salah ambil langkah
Pernahkah kita terbangun di pagi hari, menyeduh kopi, lalu iseng membuka ponsel untuk membaca berita? Dalam lima menit pertama, layar kita sudah dibombardir dengan tajuk utama yang bikin jantung berdebar. Ada pakar yang memprediksi resesi global bulan depan, ada influencer yang menyuruh kita segera memborong emas, dan ada grafik saham merah merona yang terlihat seperti adegan film horor.
Reaksi alami kita biasanya satu: mencari tahu lebih banyak. Kita mulai membaca puluhan artikel, menonton analisis di YouTube, dan menelusuri utas di media sosial. Logika kita berbisik bahwa semakin banyak informasi ekonomi yang kita serap, semakin akurat keputusan finansial yang bisa kita ambil. Kita merasa sedang menjadi pintar.
Namun, mari kita jujur sejenak. Setelah menelan semua lautan informasi itu, apakah kita benar-benar merasa lebih mantap? Atau justru kita malah panik, buru-buru mencairkan investasi, atau ikut-ikutan membeli aset yang sebenarnya tidak kita pahami? Menariknya, sains memiliki penjelasan mengapa usaha kita untuk "tahu segalanya" justru sering kali berujung pada blunder finansial terbesar kita.
Untuk memahami mengapa otak kita begitu terobsesi pada berita, teman-teman, mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Jauh sebelum ada bursa saham atau kripto, nenek moyang kita hidup di padang sabana yang keras. Pada masa itu, informasi adalah mata uang mutlak untuk bertahan hidup.
Bayangkan kita sedang berburu dan mendengar suara gemerisik di balik semak-semak. Otak kita harus segera memproses informasi itu: apakah itu angin, rusa, atau harimau kelaparan? Mereka yang rajin mengumpulkan informasi tentang lingkungannya adalah mereka yang selamat dan mewariskan gennya kepada kita. Karena itulah, secara evolusioner, otak kita diprogram untuk menghadiahi kita dengan sedikit suntikan dopamin setiap kali kita menemukan informasi baru. Otak kita selalu merasa kelaparan akan data.
Masalahnya, perangkat keras di kepala kita ini belum banyak di-upgrade sejak zaman batu. Dulu, informasi yang kita terima sangat terbatas dan selalu relevan dengan kelangsungan hidup. Sekarang, kita hidup di era information overload. Semak-semak yang bergemerisik itu kini telah berubah menjadi notifikasi berita ekonomi 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Otak kita mengira setiap berita inflasi adalah "harimau" yang akan menerkam kita, padahal sistem biologi kita tidak dirancang untuk menahan kepanikan global yang disiarkan secara real-time.
Di sinilah teka-tekinya mulai menjadi menarik. Jika otak kita didesain untuk menyerap informasi demi mengambil keputusan yang lebih baik, mengapa dalam dunia finansial, informasi ekstra justru sering menghancurkan kita?
Pernahkah kita mendengar kisah tentang monyet yang disuruh melempar panah ke daftar saham, dan ternyata pilihan si monyet berhasil mengalahkan return dari para analis Wall Street yang bergelar mentereng? Ini bukan sekadar lelucon, melainkan sebuah eksperimen nyata yang berulang kali dibuktikan. Para ahli yang memiliki akses ke semua data ekonomi dunia, anehnya, sering kali mengambil langkah yang lebih buruk daripada mereka yang tidak tahu apa-apa.
Saat kita membaca terlalu banyak berita ekonomi yang kontradiktif, ada sebuah area di otak kita bernama amygdala—pusat rasa takut dan emosi—yang mulai mengambil alih kendali. Ketika amygdala menyala terang akibat tajuk berita yang menakutkan, ia membajak korteks prefrontal kita, yaitu bagian otak yang seharusnya bertugas untuk berpikir logis dan jangka panjang. Namun, bukan hanya rasa panik yang merusak keputusan kita. Ada sebuah jebakan psikologis tersembunyi yang diam-diam sedang mempermainkan pikiran kita saat kita merasa sudah membaca semua berita.
Jebakan itu bernama illusion of knowledge atau ilusi pengetahuan. Secara saintifik, membaca banyak berita tidak membuat kita lebih pintar memprediksi pasar; itu hanya membuat kita lebih percaya diri secara membabi buta.
Dalam dunia statistik dan sains data, ada konsep yang membedakan antara signal (informasi inti yang benar-benar penting) dan noise (kebisingan atau data acak yang tidak relevan). Sekitar 90 persen berita ekonomi harian yang kita konsumsi sebenarnya adalah noise. Harga saham yang turun 2 persen hari ini karena cuitan seorang politisi, misalnya, sama sekali tidak mengubah fundamental perusahaan tersebut dalam sepuluh tahun ke depan.
Namun, karena kita sudah mengonsumsi noise tersebut, otak kita merasa gatal. Kita terkena apa yang dalam psikologi disebut sebagai action bias. Ini adalah dorongan irasional yang membuat kita merasa harus melakukan sesuatu agar terlihat memegang kendali. Padahal, dalam investasi dan keputusan ekonomi jangka panjang, keputusan terbaik sering kali adalah diam dan tidak melakukan apa-apa.
Sebuah studi klasik dari ahli keuangan perilaku, Brad Barber dan Terrance Odean, meneliti ribuan rekening investor. Hasilnya mengejutkan: investor yang paling sering mengecek berita dan paling sering bertransaksi justru mendapatkan keuntungan yang paling rendah. Ironisnya, portofolio investasi yang performanya paling bagus sering kali adalah milik orang-orang yang lupa bahwa mereka punya investasi tersebut, atau milik mereka yang sudah meninggal. Ini adalah bukti keras bahwa dalam ekonomi modern, mengabaikan kebisingan harian secara harfiah adalah strategi yang paling menguntungkan.
Jadi, teman-teman, jika selama ini kita sering merasa gelisah, salah beli di harga pucuk, atau cut loss karena termakan berita, mari kita tarik napas panjang. Jangan salahkan diri kita. Kita hanya sedang bertarung melawan jutaan tahun evolusi biologi yang dipaksa hidup di era algoritma media digital.
Solusinya bukanlah dengan memutus total semua akses informasi lalu hidup di dalam gua. Yang kita perlukan hanyalah sebuah diet informasi. Sama seperti kita membatasi asupan junk food demi kesehatan tubuh, kita juga perlu membatasi junk news demi kesehatan finansial dan mental kita.
Mulai sekarang, cobalah untuk lebih selektif. Carilah signal jangka panjang dan abaikan noise harian. Tidak setiap hari kita harus mengambil keputusan keuangan. Kadang-kadang, langkah paling cerdas, paling berani, dan paling berbasis sains yang bisa kita ambil saat dunia sedang berisik adalah menyeduh kembali kopi kita, mematikan notifikasi berita, dan sekadar duduk tenang menikmati pagi.